Rabu, 14 Januari 2009

Langitku Menangis


Beberapa hari ini, langit di atas jakarta menangis pilu. Menumpahkan segala sedu sedan yang tak berkesudahan.... menapak waktu yang setiap saat semakin pelik.


Lembaga-lembaga yang di anut oleh manusia-manusia yang menghuninya, semakin hari semakin tidak jelas, tidak konsisten, dan semakin kehilangan kharismanya.

Bukan kesalahan keberadaan lembaga-lembaga tersebut. Tetapi ketidakbecusan manusia yang mengurus lembaga tersebut.

Lembaga negara beserta seluruh struktur dan infrastruktur negara yang sama sekali tidak peduli, atau mungkin bisa dikatakan tidak mampu mengayomi manusia dan kemanusiaan yang ada.



Lembaga agama yang semakin tidak mampu untuk memberikan arah yang jelas kepada manusia penganutnya. Hilangnya rasa kesetiakawanan, solidaritas, pengorbanan, kesetiaan, cinta kasih. Semakin tumbuhnya semangat individualistik, materialistik, berjalan tanpa hati nurani, semakin memperkeruh suasana kehidupan ini.

Semua hal tersebut akan muncul, jika sedang tertimpa masalah. Kelamnya hari-hari dengan tangisan sendu langit bumiku, meluluh lantahkan segala yang ada di bawah naungannya, barulah mampu menggerakkan sisi kemanusiaan.

Kerelaan berkorban bagi sesama yang menderita karena terkena musibah, menjadi santapan ritual wajib saat manusia yang lain benar-benar telah jatuh.

Keberpihakan pada si kecil, tiba-tiba muncul. Dengan slogan-slogan dan seragam-seragam tertentu, banyak pihak berusaha mencari simpati, "Kamilah penolong Anda", omong kosong belaka.

Lalu di mana sisi kemanusiaannya selama ini? haruskah menolong sesama kita lakukan saat sesama kita benar-benar telah jatuh? Haruskah menolong sesama kita lakukan saat sesama telah benar-benar menderita secara massal?

Sebuah fenomena unik yang ada di muka bumi kita. Fenomena yang menjadi santapan lezat kaum mampu untuk berpaling sejenak pada kenyataan, bahwa ia hidup di tengah penderitaan manusia yang lain. Yang selama ini mungkin, sama sekali tidak pernah dipedulikannya.
Namun itu pun akan muncul, jika memang manusia tersebut sadar dan melakukan intropeksi ke dalam diri mereka sendiri.

Berangkat dari kenyataan tersebut, apakah fungsi lembaga negara sudah maksimal? Apakah fungsi lembaga keagamaan sudah pada tempatnya?

Semuanya telah tergantikan. Manusia yang berada di dalam struktur lembaga kenegaraan justru bukan lagi menjadi pengabdi dan pengayom. kenyataan di lapangan jelas menunjukkan hal tersebut. Demikian halnya di dalam lembaga keagamaan, faktor-faktor ekonomis dan tarik menarik kepentingan, semakin menghilangkan pentingnya keberadaan hati nurani di dalam pelayanan terhadap umat manusia. Hingga umat merasa tidak diikutsertakan di dalam proses ber-lembaga. Sehingga saat ia melakukan hal-hal yang berada di luar koridor kelembagaan agama yang telah di tentukan, sama sekali bukan halangan.
Seberapa besar pula lembaga keagamaan mampu menciptakan "rasa takut" melakukan kesalahan bagi umatnya? Adakah itu saat ini tercipta di dalam kehidupan kita sehari-hari?

Cukup pelik permasalahan universal yang saat ini sedang kita hadapi. Tidak cukup satu dekade proses penyembuhan rasa sakit yang telah dialami oleh banyak manusia. dan saat ini, hanyalah niatan yang tulus dari masing-masing pribadi, untuk menyadari, bahwa bumi telah lanjut usia. Kita tidak tahu, bila suatu saat, tiba-tiba bumi ini kehilangan daya gravitasinya. Kita tidak tahu, saat lempengan-lempengan yang menutupi permukaan bumi dengan daratan dan lautan terbelah mengikuti pola lempengan yang sudah ada. Pasti menakjubkan..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar